SEJARAH TEMPO DULU KABUPATEN SIMEULUE PROPINSI ACEH

oleh -201 views

Simeulue, Ginewstvinvestigasi.com Kabupaten Simeulue adalah sebuah kepulauan yang terpisah dari daratan Pulau Sumatera dengan jarak lebih kurang 180 mil laut dengan jumlah penduduk lebih kurang mencapai 100 ribu jiwa, masyarakat yang mendiami pulau ini dengan berbagai suku dan asal menjadi satu sebagai warga Simeulue tanpa perbedaan antara satu dengan yang lainnya, kerukunan dan silahturrahim terjalin erat bak saudara kandung sendiri, toleransi dan rasa gotong royong sangat dibudayakan ditengah masyarakat dari dulu hingga sampai saat ini.

Simeulue terdiri dari 10 kecamatan dan 138 desa, mata pencaharian masyarakat sehari-hari berbagai pekerjaan dilakoni baik di darat sebagai petani, pekebun, pedagang, pegawai negeri, tukang, buru dan lain-lain. Kekayaan bagi mereka tidak mejadi proritas utama tapi ketentraman dan kenyamanan hidup itu yang dicari dan diutamakan ditengah-tengah masyarakat kabupaten simeulue, prinsipnya biarlah hidup miskin asalkan bahagia.

Berbicara tentang Simeulue mungkin butuh waktu yang sangat panjang untuk menyelesaikanya, namun disini saya mencoba mengurai sekelumit kisah sebagai pengingat dimasa lalu dengan bahasa yang sederhana, dijaman dulu sekitar tahun 80-an hingga 90-an Simeulue pernah dikenal sebagai pulau penghasil cengkeh kwalitas internasional bahkan mendapat julukan pulau emas (Island Gold) banyak perwakilan dagang didirikan dipulau ini sebagai penampung hasil panen cengkeh maupun kopra kering saat itu, masyarakat memiliki daya saing ekonomi tinggi dan memiliki harta berlimpah ruah disana sini, uang dikantong pun sangat banyak apalagi yang tersimpan dalam lemari dirumah masing-masing karena pada masa itu bank belum lazim bahkan tidak dikenal.

Saking banyaknya uang dikantong seakan tak ada habis-habisnya rasa angkuh pun sebahagian orang terpancar dari sikap dan cara berbicara, tempat berobatpun tak tanggung-tanggung ke banda aceh, medan, padang yang paling dekatnya meulaboh dan sibolga padahal sakitnya tak seberapa tapi bisa berbulan baru kembali ke Simeulue, ole-ole atau buah tangan jangan ditanya berapa banyaknya yang akan dibagikan kepada sanak saudara sekampung, bercerita tentang megahnya kota besar seminggu tak ada habisnya, bahkan barang bawakannya pun banyak yang aneh-aneh, dulu listrik belum tapi ada sebahagian masyarakat berbondong-bondong beli kulkas (lemari es) untuk dijadikan lemari pakaian sebagai gengsi dan trendi dimata yang lainnya.

Hahahahaha… Lucu, konyol dan kolot mungkin itu yang dinggap saat ini, tapi itulah kenyataan dimasa itu menjadi lazim ditengah masyarakat tak ubahnya seperti trendnya gawai (Hp/Android) sekarang ini.

Sekian puluh tahun masyarakat menikmati hidup dalam berkecukupan hanya sebahagian kecil saja ekonominya agak lemah karena belum memiliki ladang atau kebun cengkeh yaitu para pendatang baru tiba dari luar daerah Simeulue. Kemunduran ekonomi dan paceklik perlahan mulai dirasakan oleh masyarakat diperparah lagi dengan sistem monopoli dagang dari Koperasi Unit Dagang (KUD) yang dikuasai dari keluarga cendana akibatnya banyak kantor perwakilan dagang gulung tikar dan meninggalkan pulau Simeulue, sejak itu harga jual cengkeh pun mengalami penurunan secara draktis tidak sedikit batang pohon cengkeh ditumbang dijadikan kayu api karena dianggap tak berharga lagi, kebun cengkeh yang dulunya menghiasi dataran dan pucuk-pucuk gunung berubah menjadi rimba dan belukar, pohon cengkeh yang tak sempat ditumbang pelan-pelan mati dililit akar dan ditelan rimba yang semakin merayap hingga menutupi pucuk dan dahan.

Mulai terdengar jeritan kelaparan disana-sini, batang pohon sagu (Rumbiah) mulai dilirik sebagai makanan alternatif sebab padi diserang hama sebelum dituai, emas perhiasan dan simpanan satu persatu mulai dijual ke toko emas dengan harga terkesan miring, pemilik toko pun mulai tersenyum riang karena untung besar didepan mata setiap hari.

Kemewahan dan gengsi hanya tinggal cerita, dalam rentang waktu yang panjang masyarakat melakoni kehidupan yang amat berat, terbilang jari saja yang bernafas legah dalam mengarungi kehidupan sehari-hari. Tahun silih berganti tibanya masanya KUD tekor dan gulung tikar harga cengkeh mulai beranjak naik para pedagang dari luar mulai bermunculan kembali, namun sayang banyak batang pohon cengkeh telah menjadi arang terlebih dahulu dijadikan kayu api, hanya sedikit yang tersisa.
Masyarakat kembali berbondong-bondong menanam bibit pohon cengkeh tapi apa diharap 20 tahun kemudian baru dapat dipanen.

Seiring waktu berjalan, Pulau Simeulue dimekarkan menjadi sebuah Kabupaten, kesempatan lapangan kerja diberbagai tempat terbuka lebar, roda ekonomi mulai bergeliat di era baru, masyarakat mendapat kelapangan disana-sini dan tidak hanya menggantungkan hidup pada hasil cengkeh dan kopra saja akan tetapi banyak pekerjaan yang jadi penopang hidup. Pendidikan mulai digalakan dengan didirikannya bangunan sekolah dibanyak tempat hingga keplosok kecamatan dan desa, masyarakat mulai mengenal tehnologi, masa-masa kekolotan manjadi cerita dan guyonan diwarung-warung kopi saat bercanda dengan para sahabat dimasa lampau.

Kini Simeulue bukan yang dulu, cara dan gaya hidup terjadi perubahan sangat signifikan, modrenisasi terdapat diberbagai tempat hingga menjangkau keplosok-plosok desa, sinyal 3G bahkan 4G dan Wifi ada dimana-mana, berbagai informasi secepat kilat berkembang ditengah masyarakat.

Penutup kisah “Aku Yang Dulu Bukanlah Yang Sekarang” sangat tepat semboyan dari lirik lagu Tegar ini disematkan kepada Simeulue yang telah berevolusi menjadi pulau idola, bahkan gaungnya sudah sampai ke manca negara, banyak resort dibangun diberbagai lokasi, para penyuka surfing dan selancar pun berdatangan kepulau yang memiliki sejuta pesona wisata ini.

Simeulue SEJAHTERA, Teruslah Bergerak Maju……

“Salam Damai Dari Putra Simeulue”

SNB.MG13102019
Ginewstvinvestigasi.com(hel)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *