Anggota DPD RI Asal Aceh HM. Fadhil Rahmi LC Mengunjungi Balita Penderita Kasus Gizi Buruk Asal Simeulue

  • Bagikan

Simeulue, Ginewstvinvestigasi.com – Nabila Azyyati Balita yang menderita gizi buruk itu, Lahir pada 15 Februari 2016, anak ke-4 dari pasangan suami istri Ali Rahman dan Asmani, warga Desa Sua-Sua, Kecamatan Teupah Tengah, Kabupaten Simeulue. Jum’at (22/11/)

Balita ini didera kasus gizi buruk dan juga terindikasi bocor jantung, katarak, hingga gangguan pendengaran dan juga belum bisa berjalan, layaknya balita  seusianya.

Menurut Asmani, Ibu kandung  Nabila, selama di RSU, ZA, anaknya sudah menjalani serangkaian penanganan medis, perawatan dan terapi. “Alhamdulillah ada perubahan sedikit.

Tim medis RSU, ZA juga sudah melakukan operasi katarak yang mendera kedua mata putri saya dan juga menjalani terapi saraf dua kali seminggu dan penanganan gizi.

Tapi sudah dua bulan obat jantung sudah
berhenti karena keterbatasan biaya untuk melanjutkan pengobatan ke Banda Aceh yang sebulan sekali.” Ujarnya.

Karena Menurut informasi, ” sambung Asmani, ” alat itu harus beli sendiri. Dengar-dengar harganya mencapai Rp 80 juta. Ya Allah dari mana kami dapatkan uang sebanyak itu.

Sedangkan suami saya Ali Rahman, pekerjaan hari-harinya seorang penjual ikan dari hasil tangkapan Nelayan, hanya cukup untuk kehidupan kami sehari – hari yang memang tercatat sebagai keluarga yang kurang mampu.

“Di tempat yang sama Fadhil Rahmi,LC. mengatakan, kepada sejumlah awak media, ” Saya  akan melakukan koordinasi dengan dokter yang menangani adek Nabila di RSU, ZA supaya Langkah apa untuk selanjutnya perawatan yang harus dijalani Nabila ini. 

” Saya akan kordinasi dengan  salah seorang staf saya, “Lanjut Fadhil Rahmi, ” untuk mengurus aspirasi supaya dapat disalurkan ke adek kita Nabil.

Karena penyakit yang di derita adek ini komplikasi, katarak, pendengaran, gizi buruk, tidak bisa bergerak seperti anak normal biasanya serta indikasi bocor jantung sebagaimana diceritakan orang tua Nabila.

Sehingga kita butuh kepastian medis dari dokter yang pernah menanganinya beberapa bulan lalu. Kalau memang harus pengobatannya ke RS Jakarta maka ini butuh biaya yang sangat besar.”ungkapnya

SNB. JM22112019
Ka. Biro SML(hel)

  • Bagikan
%d blogger menyukai ini: