Polsek Batam Kota Berhasil Meringkus Pelaku Agen Pemalsu Data Seluler SIM Card

Ginewstvinvestigasi.com ■ BATAM – Jajaran Satreskrim Polresta Barelang berhasil mengungkap agen pemalsuan identitas registrasi kartu seluler perdana yang biasa bermarkas di Batam. Sebanyak lima orang tersangka berinisial SS, JA, JH, JN, dan K diamankan dari pengkungkapan ini.

Kapolresta Barelang, Kombes Pol Prasetyo Rachmad Purboyo mengatakan, para pelaku ini merupakan agen kartu perdana seluler yang memiliki jaringan antar Provinsi.

“Mereka beli kartu ke dealer operator seluler resmi, lalu diaktivasi sendiri menggunakan data yang diambil dari orang lain tanpa sepengetahuan si pemilik data,” ujar Prasetyo kepada wartawan di Mapolresta Barelang, Rabu (08/01/2020).

Diungkapkan Prasetyo, dalam satu hari para tersangka dapat meregristrasi sebanyak 5.000 kartu perdana. Setelah aktif kartu tersebut diperjual belikan dengan selisih harga Rp 2 ribu dari harga kartu normal yang belum teregristrasi.

Dari pengakuan tersangka, data pribadi mereka dapat dengan cara menjebol sebuah aplikasi seluler yang memang menyimpan ribuan nomor NIK milik masyarakat. Aplikasi itu pun kini tengah diselidiki oleh pihak Kepolisian.

“Katanya untuk memperlancar jualannya. Data tersebut mereka dapat dari menjebol sebuah aplikasi yang kini tengah kami selidiki,” jelas Prasetyo.

Adapun barang bukti yang berhasil dimankan yakni, ribuan SIM Card yang belum teregristrasi, ratusan SIM card yang sudah diregristrasi, 4 unit komputer, dan sejumlah alat elektronik yang digunakan untuk menjebol server.

Atas perbuatannya, para tersangka akan dikenakan Pasal 35 Undang-Undang tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) Nomor 11 Tahun 2008.

Di mana, dalam Pasal 35 disebutkan, setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum melakukan manipulasi, penciptaan, perubahan, penghilangan, perusakan informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik dengan tujuan agar informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik tersebut dianggap seolah-olah data yang autentik.

“Ancaman hukumannya selama 12 tahun penjara serta denda sebesar Rp12 miliar,” pungkasnya. (Kiki)