Ditetapkannya 12 Warga Tanjung Lenggang Pasca Kerusuhan, Muhri Fauzi : “Bebaskan Warga”

Langkat ■ Terkait pasca kerusuhan yang terjadi di Tanjung Lenggang, Kamis (9/1/2020) pukul 20.30 wib,di picu dengan penyekapan ibu dan anak balita yang membuat warga mengamuk, sehingga mengakibatkan satu orang meninggal dunia.

Ditetapkannya 12 orang warga Desa Tanjung Lenggang, oleh Polres Langkat yang berkasnya di limpahkan ke Polda Sumut. Mendengar di tahannya 12 warga Tanjung Lenggang membuat Tokoh masyarakat Bahorok Muhri Fauzi Hafiz angkat bicara.

Menurut Muhri, ke 12 warga Tanjung Lenggang Bahorok yang di tetapkan sebagai tersangka karena di duga melakukan pengrusakan dan pembakaran beserta ratusan masyarakat lainnya adalah hal yang tidak adil. “Ke 12 warga yang ditetapkan sebagai tersangka tersebut hanyalah sebagian kecil warga yang kesal terhadap oknum preman yang melakukan penyekapan terhadap ibu dan anak balita. “Mereka hanya ingin membantu untuk membebaskan ibu dan anak balita yang di sekap tersebut, yang mereka nilai tidak mempunyai hati nuraniq, ungkap Muhri ketika di konfirmasi melalui seluler (Rabu, 15/1/2020).

Muhri Fauzi Hafiz warga Bahorok yang juga pernah menjadi legislator DPRD Sumut meminta kepada pihak yang berwajib untuk menjunjung tinggi azas praduga tak bersalah, serta membebaskan 12 warga yang saat ini di tahan dan kasusnya di limpahkan ke Mapolda Sumut.
“Polisi seharusnya menjunjung tinggi azas praduga tak bersalah, dan bebaskan masyarakat dan jangan di tahan, pihak penegak hukum agar dapat bersikap adil dalam perkara ini, harap Muhri. Secara terpisah camat Bahorok Dameka Putra Singarimbun, S.STP saat di konfirmasi kepada awak media, mengatakan, pihaknya sudah mengetahui terkait warganya yang ditahan, pihaknya juga berupaya memperjuangkan warganya yang di tahan.
“Kita bersama dengan tokoh masyarakat Bahorok berupaya dan berjuang agar mereka mendapatkan keringan dari pihak yang berwajib, ujar Camat.
“Mereka hanya membela ibu dan seorang balita, seharusnya pihak berwajib juga menjunjung tinggi azas praduga tak bersalah.
Perlu diketahui, kerususuhan yang terjadi di picu ketika oknum inisial A melakukan penyekapan terhadap ibu dan seorang balita di karenakan hutang suami korban. Di karenakan sikorban Endak (28) dan anaknya Septiana di sekap oleh A.
Mendengar penyekapan tersebut 700 massa mendatangi markas A beserta kroninya di pantai okor Pante Sampe, karena tidak ketemu dengan A, massa mendapatkan 3 kroni A dan langsung menghajar 3 kroni serta membakar gubuk yang berada di Dusun II semertih baru. Dari kerusuhan tersebut, Jum’at (10/1/2020) pukul 04.00 wib yang mengakibatkan satu orang meninggal dunia, dan dua orang luka parah. (T. Pasaribu)