Novita Dini Saputri Mahasiswi Program Study Agribisnis Fakultas Pertanian Perikanan Dan Kelautan
Provinsi kepulauan bangka belitung
Ginewstv Investigasi.com.
Bangka Belitung – Aktivitas penambangan laut di wilayah Bangka Belitung kembali menuai sorotan. Sejumlah nelayan mengeluhkan kerusakan ekosistem laut yang semakin parah akibat maraknya kapal isap produksi (KIP) dan ponton tambang yang beroperasi di perairan tangkap mereka.
Dalam beberapa bulan terakhir, tingkat kekeruhan air laut meningkat tajam, diduga akibat penyedotan pasir laut untuk mendapatkan timah. Kondisi ini membuat ikan menjauh dari area tangkap, sehingga hasil tangkapan nelayan menurun drastis.
Kerusakan ekosistem laut juga semakin meluas. Lembaga pemerhati lingkungan menyebut terumbu karang dan padang lamun mengalami kerusakan berat akibat tertutup sedimen. Air yang keruh menghambat fotosintesis biota laut dan menurunkan jumlah plankton yang menjadi sumber makanan bagi banyak spesies ikan.
Seorang peneliti lingkungan dari Pangkalpinang mengingatkan bahwa jika kondisi ini terus dibiarkan, rantai makanan laut bisa runtuh.
Di sisi sosial, konflik antara nelayan dan penambang meningkat. Banyak nelayan menolak keberadaan KIP karena beroperasi di zona tangkap tradisional. Mereka menilai aktivitas tambang hanya menguntungkan pihak tertentu,
sementara masyarakat pesisir menanggung kerugian ekonomi dan kerusakan lingkungan. Kelompok nelayan menyebut protes yang mereka lakukan belum membuahkan hasil karena aktivitas KIP tetap berjalan.
Warga dan pemerhati lingkungan menilai pengawasan pemerintah masih lemah. Beberapa kapal tambang disebut beroperasi tanpa izin atau melampaui zona yang telah ditetapkan.
Meski pemerintah provinsi menyatakan akan memperketat pengawasan serta menindak tambang ilegal, kenyataannya aktivitas penambangan masih berlangsung di banyak titik.
Sejumlah akademisi dan aktivis lingkungan mendesak pemerintah menerapkan moratorium penambangan laut sampai ada kajian ulang mengenai dampaknya. Mereka menilai kerusakan yang terjadi akan semakin sulit diperbaiki jika penambangan tidak segera dibatasi.
Menurut saya Novita Dini Saputri, mahasiswa Universitas Bangka Belitung (UBB) jurusan Agribisnis Pertanian, aktivitas penambangan laut di Bangka Belitung sangat meresahkan. Kerusakan ekosistem bukan hanya merugikan lingkungan, tetapi juga berdampak langsung pada kehidupan masyarakat, khususnya nelayan yang bergantung pada laut untuk mencari nafkah.
Laut yang seharusnya menjadi sumber kesejahteraan justru rusak akibat penyedotan pasir dan operasi kapal isap. Saya menilai penambangan perlu diawasi lebih ketat dan bahkan dihentikan sementara untuk mencegah kerusakan yang lebih parah. Lingkungan yang rusak tidak dapat pulih dengan cepat, dan jika dibiarkan, generasi mendatang akan kehilangan kekayaan laut yang selama ini menjadi kebanggaan Bangka Belitung.
Ginewstv Investigasi.Com.(Fuad)












