Nabire, Papua Tengah ===== Acara penobatan Kepala Suku Besar Watih di Taman Gizi Oyehe Nabire turut diwarnai dua sambutan penting dari Kapolda Papua Tengah Brigjen Pol. Alfred Papare serta Asisten III Setda Papua Tengah yang mewakili Gubernur. Keduanya menekankan pesan persatuan, penghormatan adat, serta komitmen menjaga keamanan dan harmonisasi di wilayah Papua Tengah.
Gubernur Papua Tengah. “Penobatan Ini Amanah Leluhur dan Tonggak Persatuan”
Gubernur Papua Tengah Meki F.Nawipa, S.H dalam sambutan tertulis yang dibacakan oleh Asisten III Setda Provinsi Papua Tengah menyatakan, Penobatan Kepala Suku Besar Wate bukan hanya urusan adat internal, tetapi juga bagian penting dalam memperkuat tatanan sosial dan pembangunan daerah.
“Atas nama Pemerintah Provinsi Papua Tengah, kami menyampaikan selamat kepada Bapak Otis Monei. Penobatan ini adalah amanah leluhur untuk menjaga nilai-nilai adat, memperkuat persatuan, dan menjadi jembatan antara masyarakat adat dan pemerintah,” ungkapnya.
Gubernur menyatakan bahwa Suku Wate memiliki peran strategis dalam perjalanan sejarah Nabire dan Papua Tengah. Nilai-nilai hidup orang Wate dinilai telah menjaga harmoni, keamanan, serta kebersamaan di wilayah tersebut.
Ia berharap kepemimpinan adat yang baru dikukuhkan mampu menghadapi tantangan zaman, meningkatkan sinergi dengan pemerintah, serta memajukan masyarakat Wate dan daerah sekitarnya.
“Kita berharap Suku Wate, melalui kepemimpinan Bapak Otis Monei, dapat mempersatukan berbagai suku yang hidup berdampingan di wilayah adat Watih. Persatuan ini penting untuk mewujudkan kemajuan Nabire dan Papua Tengah ke depan,” pungkasnya.
Kapolda: “Jangan Jadikan Suku Sebagai Alasan untuk Konflik”
Dalam sambutannya yang tegas, Kapolda Papua Tengah Brigjen Pol. Alfred Papare menyampaikan ucapan selamat atas pengukuhan Kepala Suku Besar Watih, Otis Monei, S.Sos., M.Si., serta mengapresiasi pesan-pesan adat yang disampaikan oleh pemimpin yang baru dinobatkan tersebut.
Kapolda mengajak seluruh masyarakat adat untuk bergandengan tangan menjaga situasi keamanan dan ketertiban di Nabire serta wilayah Papua Tengah secara keseluruhan. Ia mengingatkan bahwa konflik yang terjadi di beberapa daerah sering kali disalahartikan sebagai konflik suku, padahal merupakan persoalan politik atau kepentingan kelompok tertentu.
“Sering kali kita memakai suku sebagai alasan untuk berkonflik, padahal adat tidak mengajarkan demikian. Dalam beberapa kasus, konflik politik dialihkan menjadi perang suku, dan ini merusak nilai-nilai adat,” tegas Kapolda.
Ia mencontohkan insiden di Kabupaten Puncak dan peristiwa di Kuam Kilama yang menelan korban jiwa, di mana provokasi dilakukan oleh oknum tertentu, termasuk pejabat daerah. Kapolda menegaskan bahwa nyawa adalah hak Tuhan dan tidak boleh dibalas dengan kekerasan atas nama adat.
“Yang berhak mencabut nyawa hanya Tuhan. Karena itu saya mengajak masyarakat untuk menghentikan konflik. Ketika upaya persuasif tidak berhasil, kami terpaksa mengambil langkah tegas untuk menghentikan pertumpahan darah,” ujarnya.
Kapolda mengakhiri sambutannya dengan apresiasi kepada Suku Wate yang dalam momentum penobatan ini menunjukkan semangat persatuan dan dukungan terhadap stabilitas keamanan daerah.
Kapolda menyatakan bahwa sambutan Kepala Suku Besar Wate Otis Monei sama dengan melegitimasi dan mendukung program serta apa yang dijalankan pihaknya dalam penegakan hukum, menciptakan situasi dan kondisi Papua Tengan yang aman dan kondusif.
(IING ELSA ENAGONEWS/ MARTIKA EDISON SILIWANGI NEWS TIM EKSPEDISI SILIWANGI CINTA ALAM INDONESIA/ EIGER TIM EKSPEDISI MERAH PUTIH INDONESIA MAJU)












