Berita  

Heru MAKI Tegaskan Tidak Ada Premanisme Di Suroboyo Dalam Bentuk Apapun Apalagi Sampai Berkedok ORMAS, Hentikan Narasi SARA, “Ingat Kamu Jual Kami Beli”

GIN JATIM JEMBER
06/01/2026
Surabaya .Kegelisahan atas kondisi Kota Surabaya yang kian gaduh akhirnya meledak ke ruang publik.
Sejumlah tokoh masyarakat,LSM Dan pengusaha, aktivis, dan warga Surabaya menggelar diskusi terbuka di Resto Cafe Hedon Estante, Jalan Ngagel Timur, Surabaya, Selasa (06/01/2026)

Pertemuan ini menjadi penegasan sikap warga yang menolak keras praktik premanisme berkedok organisasi kemasyarakatan (ormas) serta narasi bernuansa SARA yang dinilai berpotensi memecah persatuan arek Suroboyo.

KETUA Heru Satrio, menegaskan bahwa forum tersebut lahir dari kepedulian murni warga terhadap masa depan kota. Ia menilai, belakangan Surabaya bukan hanya dihadapkan pada persoalan premanisme jalanan, tetapi juga kegaduhan opini yang berbahaya karena menyerempet isu kesukuan.
“Kami ini warga Surabaya, bagian dari kota ini jangan rusak generasi kami ini

Ketika muncul dinamika yang mengarah pada pengelompokan suku dan legitimasi ormas tertentu, kami merasa wajib bersuara.

Di Surabaya tidak ada suku-sukuan. Yang ada hanya Warga Negara Indonesia,” tegas Heru.
Heru secara terbuka mengkritik pernyataan Wali Kota Surabaya yang menyebut akan mengumpulkan perwakilan suku-suku.

Menurutnya, pernyataan tersebut tidak hanya keliru, tetapi juga berpotensi menimbulkan perpecahan horizontal di tengah masyarakat yang selama ini hidup rukun dan tentram

“Kalau bicara persatuan dan kesatuan, tidak ada Jawa, Madura, atau lainnya. Yang ada Indonesia.

Pernyataan itu membuka ruang tafsir berbahaya dan kami akan menyampaikan nota keberatan resmi,” ujarnya lantang.

Sorotan tajam juga datang dari Dr. David, pengusaha sekaligus warga asli Surabaya, yang mengungkap keresahan lama masyarakat terkait praktik parkir liar yang dinilainya sudah masuk kategori premanisme terstruktur.
“Siapa pun yang meminta uang dengan cara memaksa, itu preman ucapnya.

Mau dibungkus parkir, keamanan, atau apa pun namanya. Ini sudah lama terjadi dan pemerintah seperti menutup mata,” kata Dr.David.

Ia menegaskan bahwa kritiknya tidak ditujukan kepada juru parkir di lapangan, melainkan pada sistem yang diduga sarat penyelewengan.

Menurutnya, potensi pendapatan parkir Surabaya sangat besar, namun realisasi yang masuk ke kas daerah justru tidak sebanding.

“Setoran di bawah besar, tapi yang masuk PAD kecil. Ini logika terbalik. Kalau dihitung, potensi kebocorannya bisa ratusan juta rupiah per hari. Artinya ada masalah serius yang harus dibuka ke publik,” tegasnya.

David juga menyinggung dugaan adanya perlindungan terhadap oknum tertentu oleh ormas, sehingga laporan masyarakat terkait premanisme parkir kerap mandek.

Ia menilai, penanganan keamanan kota seharusnya diserahkan penuh kepada aparat penegak hukum, bukan dilegitimasi melalui kelompok tertentu.

Sementara itu, Purnama, pimpinan Pasukan Hitam Jagabaya, menegaskan bahwa Surabaya adalah miniatur Indonesia yang telah lama hidup dalam keberagaman tanpa konflik suku atau sejenisnya

Menurutnya, membawa isu kesukuan dalam penertiban kota adalah langkah mundur.

“Surabaya ini barometer Indonesia. Tidak pernah ada masalah suku. Yang jadi masalah adalah premanisme dan ketidakadilan.

Jangan sampai ada oknum yang mengatasnamakan suku lalu mencoreng nama warga lain,” tegas Purnama.

Ia juga mengingatkan bahwa pembiaran terhadap premanisme akan berdampak luas, mulai dari rasa aman warga hingga rusaknya iklim investasi dan citra Surabaya sebagai kota metropolitan.

Hal senada disampaikan Mas Rudi, perwakilan arek Surabaya, yang menyoroti keresahan dunia usaha akibat situasi sosial yang tidak kondusif.

Ia menegaskan bahwa pengusaha tidak berbicara soal politik, melainkan soal kepastian hukum dan keamanan.

“Kami ini bicara kenyamanan dan investasi. Kalau Surabaya terus gaduh karena ulah oknum berkedok ormas, jelas yang rugi bukan hanya warga, tapi juga ekonomi kota,” ujarnya.

Rudi juga menilai penggunaan nama dan simbol budaya atau kesukuan dalam penamaan ormas seharusnya dibatasi untuk kepentingan kebudayaan semata, bukan dijadikan alat legitimasi kekuasaan jalanan.

Menutup pertemuan, Ketua maki Heru Satrio melontarkan ultimatum keras. Ia menegaskan bahwa pihaknya memberi tenggat 1×24 jam kepada Ketua Ormas Madas Sedarah untuk mencabut laporan di Polda Jatim terhadap Wakil Wali Kota Surabaya, Armuji.

Jika tidak diindahkan, massa warga Surabaya siap turun ke jalan.
“Kalau dalam 1×24 jam laporan itu tidak dicabut, kami akan menggruduk Pemkot Surabaya dengan ribuan masyarakat. Ingat, kamu jual—kami beli,” ujar Heru dengan nada keras berapi-api.

Para tokoh menegaskan satu sikap bersama:
Surabaya harus tetap menjadi rumah bersama, bebas dari premanisme, bebas dari politik identitas, dan tegak di atas hukum serta persatuan.

“Kami ingin Surabaya aman, nyaman, dan bermartabat untuk siapa pun yang hidup dan mencari nafkah di kota ini,” pungkas KETUA Maki Heru.

maski