Berita  

RSUD dr. H Soewondo Kendal Menggelar In House Training (IHT) Tentang Dispensing Sediaan Steril Non Sitostatika

KENDAL – GLOBALNNESTIGASI GINEWS TV RSUD dr H Soewondo Kendal menggelar In House Training (IHT) tentang Dispensing Sediaan Steril Non Sitostatika secara aseptik serta pencegahan kesalahan obat (medication error). Kegiatan tersebut dilaksanakan di Ruang Hemodialisa (HD) pada 14, 15, dan 17 Januari 2026.

Dispensing Sediaan Steril Non Sitostatika (DSS) merupakan proses pencampuran obat steril, seperti injeksi dan infus, yang tidak bersifat sitostatika atau antikanker. Proses ini dilakukan secara aseptik oleh tenaga kefarmasian atau petugas terlatih guna menjamin sterilitas, keamanan pasien dan petugas, serta mutu produk obat.

Apoteker Instalasi Farmasi RSUD dr H Soewondo Kendal, Asri Nurhayati SFarm Apt, menjelaskan bahwa dispensing steril non sitostatika harus dilakukan dengan standar prosedur yang ketat, menggunakan ruang khusus, alat pelindung diri (APD) lengkap, serta teknik aseptik seperti cuci tangan dan disinfeksi area kerja secara berkala.

“Berbeda dengan sitostatika yang membutuhkan perlindungan ekstra, dispensing steril non sitostatika tetap harus dilakukan secara aseptik demi menjamin keselamatan pasien,” ujarnya.

Menurut Asri, IHT ini bertujuan memberikan edukasi dan penyegaran teori kepada perawat terkait penyiapan sediaan injeksi, meskipun mereka telah terbiasa melaksanakannya dalam praktik sehari-hari.

“Keselamatan pasien menjadi tujuan utama. Karena itu, meskipun perawat sudah berpengalaman, tetap perlu diberikan penguatan teori,” jelasnya.

Ia menambahkan, selama ini perawat di RSUD dr H Soewondo telah bekerja sesuai standar operasional prosedur (SOP). Namun, seiring bertambahnya jumlah perawat baru, pembaruan pengetahuan secara teori menjadi penting.

Asri juga menekankan bahwa sisa obat injeksi yang telah digunakan wajib dibuang dan tidak boleh digunakan kembali. Penggunaan ulang obat berisiko menyebabkan kontaminasi dan dapat membahayakan pasien.

“Jangan sampai pasien yang awalnya hanya diare atau demam justru tertular penyakit lain akibat kesalahan penanganan obat,” tegasnya.

Dengan penerapan prosedur yang benar, diharapkan proses penyembuhan pasien dapat berlangsung lebih cepat, masa perawatan lebih singkat, serta biaya pengobatan dapat ditekan.

Kegiatan IHT tersebut dihadiri Wakil Direktur Bidang Pelayanan RSUD dr H Soewondo Kendal, dr Mohammad Wibowo. Materi terkait medication error disampaikan oleh Nur Lina SFarm Apt.

Sementara itu, Kepala Instalasi Farmasi RSUD dr H Soewondo Kendal, Apt Tria Meilani SFarm, menjelaskan bahwa medication error merupakan kegagalan medis yang sebenarnya dapat dicegah, mulai dari tahap peresepan, penyiapan, hingga pemberian obat kepada pasien.

Ia menyebut, kesalahan tersebut kerap dipicu faktor manusia seperti kelelahan, kurangnya pengetahuan, komunikasi yang tidak efektif, maupun lingkungan kerja yang kurang mendukung.“Melalui IHT ini, kami berupaya mengantisipasi terjadinya kesalahan pemberian obat agar keselamatan pasien benar-benar terjamin,” kata Tria.

Para peserta IHT
Selain itu, bagi perawat baru, RSUD dr H Soewondo Kendal juga memberikan materi khusus terkait kewaspadaan medication error dalam masa orientasi pegawai. “Semua perawat baru dibekali pemahaman SOP sejak awal. Karena masih berpegang pada teori, aspek tersebut kami tekankan agar saat praktik nanti pelayanan tetap aman dan sesuai standar,” pungkasnya.

Wakil Direktur Bidang Pelayanan RSUD dr H Soewondo Kendal, dr Muhammad Wibowo, menyampaikan bahwa peningkatan kompetensi tenaga kesehatan melalui pelatihan internal merupakan bagian dari komitmen rumah sakit dalam menjaga mutu layanan dan keselamatan pasien.

Menurutnya, tantangan pelayanan kesehatan yang semakin kompleks menuntut seluruh tenaga medis dan keperawatan untuk terus memperbarui pengetahuan serta keterampilan sesuai perkembangan standar pelayanan.

“Keselamatan pasien adalah prioritas utama kami. Melalui IHT ini, kami ingin memastikan seluruh tenaga kesehatan, khususnya perawat, memahami dan menerapkan prosedur penyiapan serta pemberian obat secara benar dan aman, sehingga risiko medication error dapat ditekan semaksimal mungkin,” ujar dr Muhammad Wibowo.(*)