Berita  

Ngeri, “Ketua MAKI NTB Ungkap Dugaan Mega Korupsi Pengadaan Alat Peraga SMK ?!”

Lombok Barat, Globalinvestigasinews Com – Ketua Koorwil Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) Nusa Tenggara Barat (NTB) Heru Satriyo,S.Ip menggelar konferensi pers terkait dugaan Mega korupsi dalam pengadaan alat peraga pendidikan di lingkungan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) NTB, Bertempat di Resto Piring Kosong,Jln Batulayar Lombok Barat NTB yang dihadiri oleh puluhan awak media Senin (15/9/2025).

Lanjut Heru Satriyo, S.Ip, menyebut adanya skema korupsi terstruktur pada proyek pengadaan alat peraga untuk Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK) tahun anggaran 2025.

“Berdasarkan data yang kami terima, Dikbud NTB mendapat kucuran dana Rp 35,266 miliar hanya untuk pengadaan alat peraga SMK. Dana itu dialokasikan untuk 30 bidang kejuruan di 11 SMK penerima manfaat,” ujar Heru.

Menurut Heru, seharusnya penyusunan Rencana Anggaran Biaya (RAB) dilakukan berdasarkan kebutuhan masing-masing sekolah. Namun, hasil investigasi MAKI NTB menemukan adanya kejanggalan.

“RAB yang digunakan bukan berasal dari sekolah penerima, melainkan dari pabrikan atau distributor. Sekolah-sekolah dipaksa menerima RAB yang sudah jadi, lewat oknum yang diduga orang dekat penguasa,” katanya.

Tak hanya itu, MAKI NTB juga menduga adanya praktik gratifikasi berupa fee sebesar 30 hingga 35 persen dari nilai pengadaan. Jika dihitung dari total dana Rp 35,2 miliar, maka dana yang diduga mengalir ke oknum bisa mencapai lebih dari Rp 10,5 miliar.

“Ini skema mega korupsi yang rapi. Cashback miliaran rupiah diduga kuat mengalir ke oknum-oknum tertentu. Kami sudah mengantongi bukti dan akan menyerahkan ke aparat penegak hukum,” tegas Heru.

Maki berharap temuan ini menjadi atensi bagi pemerintah provinsi NTB dan aparat penegak hukum agar tidak main – main dengan dana pendidikan “Kami minta sekolah penerima manfaat berani menolak alat yang tidak sesuai kebutuhan.kami juga mendesak aparat penegak hukum untuk bertindak tegas, karena dunia pendidikan kita tidak boleh terus -menerus dikorbankan”,pungkas Heru.(GIN NTB)