Sumut, Ginewstv Investigasi.com : Kesenjangan bahasa asing antara wilayah urban dan pedesaan terlihat jelas dalam kehidupan sehari-hari. Di kota besar, istilah-istilah baru cepat populer, sedangkan di daerah pedesaan, bahasa lokal tetap menjadi identitas utama. Fenomena ini menghadirkan perdebatan menarik, apakah lebih baik cepat beradaptasi dengan bahasa global atau tetap teguh menjaga tradisi bahasa lokal? Sabtu 27 September 2025.
Bahasa Asing di Kota Cepat dan Tepat?
Pernahkah Anda mendengar istilah “ngalcer” yang viral di media sosial seperti TikTok? Kata ini berakar dari kata “culture,” yang artinya budaya. Istilah seperti ini cepat menyebar di perkotaan, namun seringkali digunakan tanpa pemahaman konteks yang tepat. Fenomena ini menunjukkan seberapa cepat kota besar menyerap bahasa asing, berkat akses yang lebih terbuka.
Data EF English Proficiency Index (2024) menempatkan Indonesia di peringkat 80 dari 116 negara dengan skor rendah (469). Namun, kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Bandung memiliki kemampuan bahasa Inggris tertinggi di Indonesia. Hal ini didukung oleh berbagai fasilitas, seperti kursus bahasa, sekolah internasional, dan internet cepat.
Meskipun begitu, kecepatan adopsi ini seringkali tidak diimbangi dengan pemahaman yang mendalam, menciptakan istilah-istilah yang tidak sesuai konteks.
Berbeda dengan kota, bahasa daerah masih mendominasi kehidupan sehari-hari di pedesaan. Survei Badan Bahasa (2022) mengungkapkan bahwa lebih dari 70% masyarakat desa, termasuk 83% orang tua berusia di atas 60 tahun, masih menggunakan bahasa daerah. Walaupun ada sedikit penurunan pada generasi muda (usia 5-17 tahun) menjadi 68%, bahasa daerah tetap menjadi pondasi identitas yang kuat.
Di sisi lain, penggunaan bahasa asing di rumah di pedesaan sangat minim, kurang dari 1 %. Ini menunjukkan bahwa ada tantangan besar dalam menyebarkan bahasa asing di luar wilayah perkotaan.
Kesenjangan ini menghadirkan plus-minus, Kota cepat beradaptasi dengan bahasa asing tetapi rawan salah kaprah. Desa mempertahankan identitasnya tetapi tertinggal dalam literasi bahasa global.
Mungkin, kita tidak perlu memilih salah satu. Solusi terbaik adalah mengambil keunggulan dari keduanya.
Pedesaan dapat meningkatkan akses terhadap pendidikan bahasa asing melalui program digital atau kerja sama dengan lembaga pendidikan.
Perkotaan perlu belajar untuk lebih menghargai bahasa lokal dan menggunakan bahasa asing dengan bijak, tidak hanya sekedar mengikuti tren.
Dengan demikian, generasi muda Indonesia bisa menjadi individu yang “melek global” tanpa kehilangan akar budayanya. Mereka akan mampu berpartisipasi dalam percakapan internasional, sambil tetap menjaga kekayaan bahasa daerah yang menjadi identitas bangsa.
Penulis : Siti Nur Soleha.












