Ternate, 28 Oktober 2025 — Peringatan Hari Sumpah Pemuda tahun ini tidak hanya menjadi momentum refleksi sejarah perjuangan pemuda Indonesia, tetapi juga menjadi panggilan moral bagi generasi muda untuk bangkit melawan korupsi. Gerakan antikorupsi di berbagai daerah kian menggema, termasuk di Provinsi Maluku Utara, di mana Gubernur LSM Lumbung Informasi Rakyat (LIRA) Malut, Said Alkatiri, menyerukan tekad baru: “Satu Tekad Melawan Korupsi.”
Dalam pernyataannya, Said menilai bahwa semangat pemuda masa kini tidak cukup hanya berhenti pada semboyan klasik “Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa.” Menurutnya, bangsa ini membutuhkan semangat baru yang lebih relevan dengan tantangan zaman, yakni perang melawan korupsi yang telah menggerogoti sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara.
“Korupsi telah membuat generasi muda kehilangan arah. Keserakahan tumbuh, pengangguran meningkat, dan moral bangsa tergerus. Inilah ancaman terbesar bagi cita-cita Generasi Emas 2045,” tegas Said Alkatiri dalam keterangannya di Ternate, Senin (28/10).
Said menyoroti kondisi Indonesia yang ia sebut telah memasuki fase darurat korupsi, termasuk di wilayah Maluku Utara. Ia menilai praktik korupsi tidak hanya terjadi di pusat kekuasaan, tetapi telah merambah hingga ke tingkat desa. Dari legislatif, eksekutif, hingga yudikatif — semua lini dianggap telah terpapar virus korupsi.
“Korupsi sudah menjadi budaya yang menular. Dari desa ke kota, dari pejabat kecil hingga pejabat tinggi, semuanya berlomba-lomba memperkaya diri. Ini adalah krisis moral yang sangat serius,” ujarnya. Menurut Said, pemberantasan korupsi di era pemerintahan sebelumnya dinilai gagal. Ia menilai bahwa di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo, korupsi justru semakin tumbuh subur. Revolusi mental yang diharapkan melahirkan generasi berintegritas, kata Said, justru berbalik arah dan melahirkan sumber daya manusia yang bermental korup.
“Revolusi mental seharusnya membentuk manusia beretika, bukan justru SDM yang korup. Kini, utang negara menumpuk, sementara kekayaan bangsa dijadikan pesta pora oleh oligarki,” tambahnya. Dalam situasi yang ia sebut genting ini, Said menyerukan agar seluruh rakyat ikut menjadi mata dan telinga bangsa. Masyarakat diminta untuk berani mengawasi dan melaporkan setiap bentuk penyimpangan serta potensi korupsi di lingkungannya masing-masing.
“Jangan diam. Rakyat harus jadi pengawas aktif di semua sektor. Karena jika kekayaan daerah terus dikuasai oleh oligarki, maka rakyat hanya akan jadi penonton di negeri sendiri,” ujar Said. Ia juga mengimbau pemerintahan baru di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto untuk mengambil langkah tegas dan radikal dalam memerangi korupsi. Menurut Said, langkah ekstrem seperti hukuman mati bagi koruptor serta perampasan aset hasil korupsi patut dipertimbangkan sebagai efek jera.
“Koruptor adalah benalu negara. Mereka bukan hanya mencuri uang rakyat, tapi juga mencuri masa depan bangsa. Presiden harus berani bertindak tegas, bahkan sampai pada hukuman mati bagi pelaku korupsi besar,” serunya lantang.
Said menegaskan bahwa perjuangan melawan korupsi tidak bisa hanya diserahkan kepada lembaga hukum. Menurutnya, peran generasi muda sangat krusial sebagai agen perubahan dan penjaga moral bangsa.
“Jika Indonesia ingin mencapai visi Generasi Emas 2045, maka syarat utamanya adalah menyiapkan generasi muda yang bersih dari korupsi. Kita memiliki bonus demografi, tapi jika mental pemudanya korup, bonus itu akan berubah menjadi bencana demografi,” katanya. Ia mengajak seluruh pemuda Indonesia untuk tidak mudah terbuai oleh janji manis atau propaganda politik para oligarki. Pemuda harus menjadi pelopor kejujuran, transparansi, dan keberanian menolak segala bentuk kecurangan.
“Jangan mudah tertipu oleh pemimpin yang hanya mementingkan kelompoknya. Kekayaan negara harus digunakan untuk kesejahteraan rakyat, bukan untuk segelintir elit,” tegas Said. Korupsi di Indonesia masih menjadi persoalan serius yang merugikan negara triliunan rupiah setiap tahun. Laporan dari berbagai lembaga independen menunjukkan bahwa korupsi tidak hanya merugikan secara finansial, tetapi juga menghancurkan kepercayaan publik terhadap institusi negara.
Bagi Said Alkatiri, perjuangan melawan korupsi harus dimulai dari kesadaran individu dan pendidikan moral sejak dini. Ia menilai bahwa membangun generasi muda yang berkarakter jujur dan berintegritas adalah kunci utama menyelamatkan masa depan Indonesia.
“Perjuangan pemuda 1928 melawan penjajahan fisik. Tapi perjuangan pemuda hari ini adalah melawan penjajahan mental dan moral yang bernama korupsi,” ujarnya menutup pernyataan.
Seruan Said Alkatiri ini menjadi pengingat bahwa semangat Sumpah Pemuda bukan hanya soal persatuan dalam identitas, tetapi juga persatuan dalam moralitas dan tanggung jawab menjaga bangsa dari kehancuran akibat korupsi. Melawan korupsi bukan sekadar tugas pemerintah, tetapi panggilan seluruh rakyat Indonesia — terutama kaum muda yang akan menjadi pewaris negeri di tahun 2045.
Jurnalis: Alimudin.












