Berita  

Lahan Cengkeh 600 Hektare Warisan Alm. Hi. Sadik Djafar Noch Kini Dikelola Koperasi Alam Sibela Nusantara di Halmahera Selatan

Halmahera Selatan….Lahan perkebunan cengkeh seluas 600 hektare yang telah dikelola sejak tahun 1981 oleh almarhum Hi. Sadik Djafar Noch, kini resmi beralih pengelolaannya kepada Novik Hi. Sadik Djafar Noch, putra almarhum sekaligus Ketua Koperasi Alam Sibela Nusantara (KASN) Halmahera Selatan.

Perkebunan yang terletak di wilayah pesisir dan dataran tinggi Halmahera Selatan ini menjadi salah satu aset penting yang berkontribusi terhadap perekonomian masyarakat setempat, khususnya para petani cengkeh di bawah binaan koperasi.

Dalam keterangan resmi yang diterima media ini, Ketua KASN Halsel Novik Hi. Sadik Djafar Noch menegaskan bahwa pengelolaan lahan tersebut akan tetap berpedoman pada prinsip keberlanjutan dan pemberdayaan masyarakat.

“Lahan ini bukan sekadar warisan keluarga, tetapi warisan ekonomi dan sosial bagi masyarakat Halmahera Selatan. Almarhum ayah saya telah mengabdikan hidupnya untuk membangun perkebunan ini sejak tahun 1981. Kami akan melanjutkan cita-cita beliau dengan tata kelola yang lebih modern, transparan, dan bermanfaat bagi petani lokal,” ujar Novik di hadapan awak media, Kamis (6/11/2025).

Menurut Novik, Koperasi Alam Sibela Nusantara (KASN) kini telah memetakan kembali lahan tersebut menjadi beberapa blok produktif dengan sistem tanam terintegrasi. Selain cengkeh, pihaknya mulai mengembangkan tanaman sela seperti pala, kelapa, jahe merah, kungit, dan kakao serta tanaman bulanan lainya guna meningkatkan diversifikasi hasil kebun dan menjaga kesuburan tanah.

“Kami tidak hanya fokus pada produksi cengkeh semata. KASN berupaya mendorong petani agar memahami nilai ekonomi jangka panjang. Ada juga pelatihan budidaya, sistem tumpangsari, dan pengelolaan pascapanen yang kini sedang kami jalankan bersama Dinas Pertanian Halsel,” tambahnya.

KASN, di bawah kepemimpinan Novik, juga membuka kesempatan bagi masyarakat sekitar untuk bergabung sebagai anggota koperasi. Tujuannya agar hasil pengelolaan lahan dapat dirasakan secara kolektif oleh masyarakat.

“Kami ingin koperasi ini menjadi wadah bersama. Para petani bukan hanya pekerja, tetapi juga pemilik manfaat. Setiap hasil panen akan dibagi sesuai kontribusi dan kerja bersama,” tegas Novik.

Ia juga menyampaikan bahwa sebagian hasil kebun nantinya akan dialokasikan untuk program sosial dan pendidikan di desa-desa sekitar wilayah perkebunan.

“Almarhum ayah selalu menekankan pentingnya berbagi. Karena itu, kami akan terus menjaga nilai itu dalam bentuk nyata, baik melalui beasiswa, bantuan sosial, maupun pembangunan infrastruktur sederhana bagi masyarakat sekitar,” katanya.

Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan disebutkan turut memberi apresiasi terhadap langkah koperasi dalam menjaga kesinambungan usaha perkebunan rakyat. Kepala Dinas Pertanian Halsel, dalam kesempatan terpisah, menilai keberadaan KASN dapat menjadi contoh model pengelolaan berbasis koperasi yang mandiri dan berorientasi pada kesejahteraan petani.

“Dengan sejarah panjang sejak tahun 1981, perkebunan ini adalah bagian dari identitas ekonomi Halmahera Selatan. Kami berharap pengelolaan baru di bawah KASN mampu meningkatkan produktivitas dan membuka peluang ekspor komoditas cengkeh,” ujarnya.

Ke depan, KASN berencana membangun pabrik penyulingan minyak cengkeh serta pusat pelatihan pertanian terpadu untuk generasi muda Halmahera Selatan.

“Kami tidak ingin generasi muda meninggalkan pertanian. Justru, kami ingin menunjukkan bahwa perkebunan bisa modern, produktif, dan menjanjikan masa depan. Ini bukan sekadar warisan, tetapi tanggung jawab untuk menjaga dan mengembangkan potensi daerah,” tutup Novik Hi. Sadik Djafar Noch.

Dengan visi melanjutkan semangat dan cita-cita almarhum Hi. Sadik Djafar Noch, lahan cengkeh seluas 600 hektare di Halmahera Selatan kini menjadi simbol kemandirian dan kebangkitan ekonomi rakyat, di bawah bendera Koperasi Alam Sibela Nusantara..

Jurnalis: Alimudin.