Berita  

“Bantuan Mesin Panen Padi Di Desa Tanjung Serayan – Mesuji, Diduga Hanya Menguntungkan Pribadi Pengurus Gapoktan Saja ?!”

Mesuji—- Guna membantu percepatan panen padi dan meringankan beban petani dalam rangka pemanenan padi di lahan persawahan, pemerintah pusat melalui pemerintah daerah Kabupaten Mesuji memberikan bantuan berupa Mesin pemanenan padi (Kombine harvester/ kombet) kepada para petani melalui Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan).
Namun sayang apa yang menjadi tujuan pemerintah untuk meringankan beban petani dalam hal biaya pada proses pemanenan padi di lahan pertanian ternyata di jadikan aji mumpung oleh beberapa oknum yang mencari keuntungan pribadi dari bantuan pemerintah tersebut.
Seperti yang ada di Desa Tanjung Serayan kecamatan Mesuji Kabupaten Mesuji Lampung, dari hasil Investigasi media ini, bahwa pada tahun sebelumnya, Gapoktan desa Tanjung Serayan menerima bantuan satu unit mesin pemanenan padi dan tahun 2023 juga dapat bantuan mesin pemanenan padi lagi jadi total alat pemanenan padi ada 2 Unit.

Saat ini mesin tersebut telah di oprasikan bekerja dalam musim panen padi pada musim sebelum nya, dan bahkan pada musim panen tahun 2024 ini.
Namun dari hasil keterangan para petani di desa tersebut bantuan pemerintah tersebut sama sekali tidak membantu kesulitan para petani tetapi diduga hanya digunakan untuk menguntungkan pengurus Gapoktan saja.

Pt (50)Petani di Desa Tanjung Serayan kepada media ini mengatakan bahwa alat bantuan pemerintah berupa mesin pemanenan padi yang ada di Desa Tanjung Serayan sudah bekerja akan tetapi upah ataupun ongkos untuk memanen padi sama harganya dengan mesin lain yang bukan bantuan.
“Untuk ongkos panen di sp 10 Tanjung Serayan sini untuk bawonnya/ongkos nya 10:1 , bila panen dapat 10 karung ongkos nya 1 karung. ” Kata Pt selaku petani di desa tersebut.

Ditanya mengenai berapa ongkos kalau petani menggunakan alat pemanen padi dari pemerintah, Pt pun menjawab bahwa sama saja ongkos nya.
“Sama saja pak ongkos nya, kombet bantuan pemerintah sama kombet rentalan ongkos nya sama, malah tahun ini padi di sp 10 sini ada yang kurang bagus ongkosnya beda, bisa nyampai 20 :4 , kalau dapat 20 karung untuk ongkos kombet 4 karung, ya mau gimana lagi daripada nggak ke panen, ” Tambah Pt menceritakan.
Sementara itu J (45) yang juga pengurus Kelompok Tani (Poktan) di desa tersebut mengatakan kalau dirinya sebagai Kelompok Tani tidak pernah di ajak untuk musyawarah terkait hasil dari kerja mesin bantuan dari pemerintah, ia hanya diajak kumpul atau pun di panggil kalau dari Gapoktan dapat bantuan benih padi ataupun pupuk cair yang akan di salurkan ke para petani.
“Kalau mengenai hasil -hasil kerja kombet maupun bajak bantuan pemerintah saya nggak tau mas, karena selama saya jadi pengurus poktan saya nggak pernah diajak musyawarah, makanya saya nggak tau mengenai hasil-hasilnya, kalau ada pembagian bantuan berupa benih padi ataupun pupuk cair iya saya di panggil untuk ikut menyalurkan, sampean tanya aja ke boimen untuk mesin kombet sama bajak dia yang nglola langsung ” Kata J selaku pengurus Poktan.

Guna keseimbangan berita Tim media pun berusaha Menelfon ketua Gapoktan Boimen ke nomor HP 08235097xxxxxxx akan tetapi meskipun berdering nampak nya Boimen tidak mau mengangkat telfon.
Sampai berita ini di terbitkan Tim media belum bisa mendapatkan informasi terkait Bantuan pemerintah tersebut dari ketua Gapoktan Boimen.
Laporan: Suryadi